Hatiku di 1 Muharam 1434H

1 Muharam 1434H menjadi hari keberanian untuk menuliskan ini,. Tasqif dan dilanjutkan musyawarah dengan dua orang murobbiyahku dan murobbiku yang tak pernah kubayangkan sebelumya,. Sederhana, namun baru kali ini ku mulai memberanikan untuk mempersiapkan diri menuju pada fase yang ke-2. Ku memahami dan semakin mengerti bahwa diri ini tak seharusnya menyimpan kepentingan-kepentingan pribadi yang sebenarnya ku sudah mulai memehaminya sejak kaki ini mulai melangkah, namun kini ku semakin mengerti,. Mereka, sosok-sosok luar biasa yang telah menanyaiku tentang “hati” ku hari ini.

Benturan – benturan yang berkaitan dengan hati telah banyak kualami,. Perjodohan oleh ayah, perkelahian, ancaman, teror, pernah dan sedang kualami,. Satu – persatu benturan itu kuhadapi karena memang tidak bisa lari,. Dan benar, ujian berkaitan dengan “hati” semakn lama tidak semakin mudah,. Walau kuakui, ku merasa kesulitan dan merasa takut untuk sedikit menelisik tentang “hati”.

Selain air mata yang menjawab pertanyaan-pertanyaan dan beberapa nasehat, satu hal yang kutanamkan dalam diri ini bahwa tidak peduli dengan siapa ku menikah, hitam ataukah putih, kaya ataukah miskin harta, semua tidak penting bagiku,.

Karena ku hanyalah milik-NYA, milik jama’ah tarbiyah, umat dan tentu milik kedua orang tuaku pula,. Ketika semua ridlo, insyaAlloh diri yang hina ini pun ridlo,. Dakwah adalah segalanya, layaknya udara yang akan mengisi ruang-ruang kosong,.

Terkadang, pikiran pun mengusik, ingin mengetahui bagaimana kebanyakan bisa merasakan suka,. Bahkan menuliskan kata “suka” pun ku masih takut dan merasa tabu, he… ingat kata teman bahwa ku tidak normal, mungkin benar juga,.. Namun, syukurku kepada-NYA,.. perlindungan-NYA adalah yang utama,. selalu dengan cara – cara terindah-NYA menjaga diri yang lemah ini.

Kan kujaga hati ini , kan kubuka hati ini saat dan hanya kepada Qowamku kelak… Ketikapun tidak di dunia, semoga di akhirat kelak.. “Hati”, tetap kan kututup rapat-rapat, kan tetap kupertahanan rasa takut ini untuk mengetukmu,. Kan kuketuk ketika semua telah Ridlo,. Hanyakan kupersambahkan hati yang kumiliki untuk ia yang mencintai-NYA  ^_^

tiada niatan apapun dalam menuliskan tulsan ini, hanya secuil ikhtiar untuk mengurangi dan meminimalisir benturan-benturan yang ada dan agar tidak timbul kembali,. sudah terlalu banyak yang terluka karena benturan-benturan yang telah kualami,. dan nuraniku jauh lebih terluka,..

sahabat, ijinkanku menjadi sahabatmu karena Alloh Ta’ala,… terilamah diri yang penuh hina ini menjadi sahabat dan kita semua saling menjaga,.. Biarlah tembok tinggi hatiku tetap berdiri diantara kita,.

Hee… mohon maaf atas kekikkanku menuliskan ini,. T-T