Jika kita cinta, maka…

Apabila cinta, maka……

Apabila kita cinta, maka kita akan siap berkorban. Apabila kita cinta akan da’wah ini, maka kita akan rela berkorban apapun untuk da’wah. àyang ku dapatkan dari kajian hari ini.

Ya, ilmu itu berjudul “Ash Saja’ah Ad Da’wah”(=keberanian dalam da’wah)

Kita semua pasti pernah merasakan rasa takut, karena itu manusiawai.Teringat senandung waktu masih TK yang menceritakan shohabiyah Mashithoh akan keberaniaannya untuk mendeklarasikan keimanannya,. Beliau harus menyaksikan keluarganya dibantai oleh musyrikin. Keberanian dalam da’wah butuh pembuktian. Dan itu telah beliau buktikan dengan keteguhan mempertahankan iman.

Keberanian ibarat suatu bangunan, efek dari beberapa komponen yang menyusunnya. Sehingga, agar keberanian itu ada dalam jiwa kita maka kita harus membangun terlebih dahulu pilar-pilarnya. Pilar-pilar keberanian itu antara lain :

  1. Iman kepada yang ghoib
  2. Menaklukkan rasa takut
  3. Mewariskan hal yang terbaik, generasi setelah kita haruslah lebih baik àperkuat kaderisasi
  4. Bersabar dengan ketaatan
  5. Mengharap balasan dari Alloh SWT semata

Nah, setelah pilar berdiri apakah kita sudah layak disebut sebagai pemberani?

Berikut adalah cirri-ciri orang-orang yang pemberani dalam da’wah :

  1. Memiliki  daya tahan yang besar.

Daya tahan akan kesulitan, penderitaan dalam da’wah menjadi bagian penting untuk dapat mengukur keberanian kita. Karena da’wah tidak menginginkan orang-orang pengecut.

2. Berterusterang pada kebenaran

Apakah kita sudah berani mengatakan kebenaran? Apapun resikonya, hanya Alloh satu-satunya sandaran perlindungan kita.

3. Kemampuan menjaga rahasia

Banyak peradaban-peradaban maju jadi hancur berantakan karana bocornya rahasia peradaban tersebut pada pihak-pihak yang menjadi musuh. Kita jangan pernah beranggapan aman walau hanya bilang pada 1 orang akan rahasia yang kita miliki. Menjaga rahasia merupakan pekerjaan yang berat dan membutuhkan strategi agar tidak menimbulkan kebohongan.

4. Mengakui kesalahan

Janganlah kita selalu mencari “kambing hitam” terhadap segala kegagalan, maupun situasi yang tidak seharusnya terjadi. Ketahuilah, mengakui kesalahn itu tidaklah mudah. Apabila kita tak mengakuui kesalahan, maka sesungguhnya kita telah membuat kesalahan baru.

5. Bersikap objektif pada diri sendiri

Cukuplah sahabat Umar bin Abdul Aziz ra saat dilantik menjadi khalifah sebagai teladan. ^_^

6. Menahan nafsu saat marah

Inilah tantantangan terberat bagi seorang pemberani, diri sendiri.

Keberanian berbeda dengan kenekatan. Keberanian itu dapat diukur, penuh strategi, dan mampu memprediksikannya. Keberanian dekat dengan motivasi, motivasi dekat dengan ukhuwah. Pererat ukhuwah dan jadilah bagian dari pemberani-pemberani dalam da’wah. Semoga bermanfaat…. ^_*