Memaknai sebuah Hari

Walau sudah terlambat 3 hari dari momentum besar dalam Islam,namun tetap kucoba tuk berbagi.
Tahun baru Hijriyah tak sekedar tahun baru. Boleh-boleh saja kita mnengucapkan dan berbagi kebahagiaan di tahun yang baru ini, 1433H. Namun ada yang lebih indah di balik peristiwa besar yang dialami oleh kekasihNya, Rasulullah SAW.

Sebuah keputusan yang luar biasa, meninggalkan segala yang dicintai menuju tempat yang baru bernama Madinnah. Keputusan dan perjalanan panjang yang beliau pilih adalah untuk memperjuangkan da’wah.

Betapa cinta beliau yang takdapat kita bayangkan kepada da’wah, memperjuangkan Islam. Yang tak sekedar kata,yang mungkin tak mampu kita lakukan saat ini.

Kita tengok kembali, bagaimana kita memperjuangkan da’wah dan mencintai Islam? Menjadi urutan keberapakah Islam berperan dalam kehidupan kita? Apakah setiap keputusan yang kita ambil, perilaku yang kita jalani, perkataan yang terucap, Islam menjadi alasan dan dasar utama dan yang pertama?

Mari renungkan sejenak akan wujud kecintaan kita pada din yang bersama kita. Tahun baru tak sekedar merumuskan, mengevaluasi akan rencana-rencana kehidupan kita. Muhasabah yang sungguh pelik perlu kita lakukan untuk memahami kembali hakikat keberadaan kita.

Tak banyak yang mampu ku bagi pada kesempatan ini, namun kucoba tuk mengajak diri sendiri dan sahabat untuk kembali menjadikan al Islam sebagai landasan utama dan pertama dari setiap hembus nafas, setiap kata terucap, setiap kaki melangkah, dan dari setiap aktivitas yang kita lakukan.

Karena perjuangan kita belum seberapa apabila dibandingkan dengan sepotong episode pengorbanan Rasulullah SAW ini yang beliau wariskan untuk kita. Karena beliau berjuangpun untuk umat yang sangat dicintai. Akankah kita termasuk di dalamnya?

Perjuangan ini tak lepas dari pengorbanan, dan pengorbanan tak lepas dari keikhlasan. Namun tak ada pengorbanan dalam kebaikan melainkan suatu keberkahan.

Yuk menjadi pribadi yang lebih baik…. ^_^

perjalanan

perjalanan